Kajian Islam : Berita dari Langit

Mengenal Baitul Makmur'

Adab dan Akhlak : Ukhuwah Islamiah

Agar Persahabatan Tidak Menjadi Permusuhan'.

Art Work : Poster Dakwah Ramadhan H-6

Poster Dakwah .

Sahabat Nabi : 60 Sahabat Rasulullah

Abdurrahman bin Auf ( Muslim Kaya Raya ).

Motivasi : Ulama Berkata

Nasehat Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri Kepada Salah Seorang Pemilik Hotel

Tampilkan postingan dengan label sahabat nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat nabi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2013

Abu Jabir Abdullah Bin Amr Bin Haram



ABU JABIR ABDULLAH BIN AMR BIN HARAM




ABU JABIR, ABDULLAH BIN AMR BIN HARAM
SEORANG YANG DINAUNGI OLEH MALAIKAT


Sewaktu orang-orang Anshar yang 70 orang banyaknya itu, mengangkat bai’at kepada Rasulullah saw. pada bai’at ‘Aqa­bah II, maka Abdullah bin Amr bin Haram, (Abu Jabir bin Abdullah) termasuk salah seorang di antara mereka ….


Dan tatkala Rasulullah saw. memilih di antara perutusan itu beberapa orang wakil, juga Abdullah bin Amr terpilih sebagai salah seorang di antara wakil-wakil mereka . . . , ia diangkat oleh Rasulullah sebagai wakil dari kaum Bani Salamah.


Dan setelah ia kembali ke Madinah, maka jiwa raga, harta benda dan keluarganya, dipersembahkannya sebagai baktinya terhadap Agama Islam. Apalagi setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, maka Abu Jabir menemukan nasib bahagianya dengan selalu bertemankan Nabi, baik Siang maupun malam ….
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Abdurrahman Bin Auf


ABDURRAHMAN BIN AUF

ABDURRAHMAN BIN AUF
“APA SEBABNYA ANDA MENANGIS,
HAI ABU MUHAMMAD … ?”

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal­-gumpal hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan raya.

Orang banyak menyangka ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.

Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan meng­himbau menyaksikan keramaian ini Serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu . . .

Ummul Mu’minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Ma­dinah . . . ?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagang­annya . . . . Kata Ummul Mu’minin lagi: “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’- minin .. . karena ada 700 kendaraan … !” Ummul Mu’rrinin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandang­nya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadi­an yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: —

“Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahanl”

Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. . . ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul . . . ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah ke­padanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya            11 Kemudian ulasnya lagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla !” Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai per­buatan baik yang maka besar ….

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurrahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah . . . ! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang mem­baktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pem­berian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela …

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing .. .. Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah saw. memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang­orang Mu’min . . .

Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam …. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Aw­wam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu­raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui Rasulullah saw. menyata­kan bai’at dan memikul bendera Islam . . . .

Dan semenjak keIslamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuh puluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

Dan Umar r.a. mengangkatnya pula sebagai anggota kelom­pok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: “Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!”
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Usaid Bin Hudhair


USAID BIN HUDHAIR

 

USAID BIN HUDHAIR
PAHLAWAN HARI SAQIFAH

Ia mewarisi akhlaq mulia dari nenek moyangnya turun­ temurun . . . . Ayahnya Hudlairul Kata’ib adalah seorang pe­mimpin Aus dan termasuk salah seorang bangsawan Arab di zaman jahiliyah, dan salah seorang hulubalang mereka yang perkasa . . . .seorang penyair pernah berpantun mengenai ayahnya ini:

“Andainya maut mau menghindar dari orang perkasa niscaya ia akan membiarkan Hudlair ketika ini menutupkan pintunya Ia hanya akan berkeliling, sampai malam datang menjelma Lalu mengambil tempat duduk dan berdendang dengan asyiknya”.

Usaid mewarisi ketinggian martabat ayahnya; ia adalah salah seorang pemimpin Madinah dan bangsawan Arab dan pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya. Sewaktu Islam telah memilih dirinya dan ia ditunjuki ke jalan yang mulia lagi terpuji bertambah memuncaklah kemuliaannya, dan bertambah tinggi martabatnya, yakni di kala ia mengambil kedudukan menjadi salah seorang pelopor penganut Agama Islam dan pembela Allah serta pembela Rasul-Nya .. .

Sewaktu Rasulullah mengirim Mush’ab bin Umeir ke Madinah untuk mengajari orang-orang Muslimin Anshar yang telah meng­angkat bai’at kepada Nabi untuk membela Islam di Baitul Aqabah yang pertama, dan untuk menyeru orang-orang lain kepada Agama Allah .. pada waktu itu Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Muadz, kedua-duanya adalah pemimpin kaum­nya  duduk merundingkan tentang perantau asing yang datang dari Mekah mengenyampingkan agama mereka serta menyeru kepada Agama baru yang belum mereka kenal ….

Di majlis Mush’ab dan As’ad bin Zurarah ini, Usaid melihat banyak orang yang dengan penuh minat dan perhatian men­dengarkan kalimat-kalimat petunjuk yang mengajak mereka kepada Allah yang diserukan Mush’ab bin Umeir . . . . Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Usaid yang melampiaskan segala kemarahan dengan berangnya …. Mush’ab lalu berkata: “Sudikah anda duduk mendengarkannya? Bila ada sesuatu yang menyenangkan anda, anda dapat menerimanya, dan jika anda tidak menyukainya, kami hentikan apa yang tidak anda sukai itu … !”
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Tsabit bin Qeis


TSABIT BIN QEIS


TSABIT BIN QEIS
JURU BICARA RASULULLAH

Hassan adalah penyair Rasulullah dan penyair Islam . . . . Dan Tsabit adalah juru bicara Rasulullah dan juru bicara Islam …. Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas dan mempesonakan ….

Pada tahun datangnya utusan-utusan dari berbagai penjuru semenanjung Arabia, datanglah ke Madinah perutusan Bani Tamim yang mengatakan kepada Rasulullah saw.:  ”Kami datang akan berbangga diri kepada anda, maka idzinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami menyampaikannya … !” Maka Rasulullah, saw. tersenyum, lalu katanya; “Telah ku­idzinkan bagi juru bicara kalian, silakanlah . . !”

Juru bicara mereka Utharid bin Hajib pun berdirilah dan mulai membanggakan kelebihan-kelebihan kaumnya . . . . Dan sewaktu pernyatakannya telah selesai, Nabi pun berkata kepada Tsabit bin Qeis: “Berdirilah dan jawablah!”

Tsabit bangkit menjawabnya: “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah”.
“Langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, dan titah-Nya telah berlaku padanya.
Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya, tidak satu pun yang ada kecuali dengan karunia-Nya
Kemudian dengan qodrat-Nya juga, dijadikan-Nya kita golongan dan bangsa-bangsa.
Dan Ia telah memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang Rasul-Nya . . . . Berketurunan, berwibawa dan jujur kata tutur­nya . . . .
Dibekalinya al-Quran, dibebaninya amanat . . . . Membimbing ke jalan persatuan ummat ….
Dialah pilihan Allah dari yang ada di alam semesta . . . .

Kemudian ia menyeru manu­sia agar beriman kepadanya, maka berimanlah orang-orang muhajirin dari kaum dan karib kerabatnya . . . yakni orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal perbuat­annya. Dan setelah itu, kami orang-orang Anshar, adalah yang pertama pula memperkenankan seruannya. Kami adalah pembela­-pembela Agama Allah dan pendukung Rasul­Nya….”.
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Utbah bin Ghazwan


UTBAH BIN GHAZWAN


UTBAH BIN GHAZWAN
“ESOK LUSAH AKAN KALIAN LIHAT PEJABAT-PEJABAT PEMERINTAHAN YANG LAIN DARIPADAKU”

Di antara Muslimin yang lebih dulu masuk Islam, dan di antara muhajirin pertama yang hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah . .. , dan di antara pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya yang telah berjasa besar di jalan Allah, terdapat seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dengan muka ber­cahaya dan rendah hati, namanya Utbah bin Ghazwan ….

la adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh perintis yang bai’at berjanji setia, dengan menjabat tangan kanan Rasulullah dengan tangan kanan mereka, bersedia menghadapi orang-orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan dan kekuasaan serta gemar menuruti nafsu angkara ….

Pada hari-hari pertama dimulainya da’wah dan pada hari-hari penderitaan dan kesukaran, Utbah bersama kawan­-kawannya telah memegang teguh suatu prinsip hidup yang mulia, yang kelak kemudian menjadi bekal dan makanan bagi hati nurani manusia dan akan berkembang menjadi luas melalui perkembangan masa ….
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Al-Barra Bin Malik


AL-BARRA BIN MALIK


AL-BARRA BIN MALIK
“ALLAH DAN SURGA … !”

Dia adalah salah seorang di antara dua bersaudara yang hidup mengabdikan diri kepada Allah, dan telah mengikat janji dengan Rasulullah saw. yang tumbuh dan berkembang bersama sama. Yang pertama bernama Anas bin Malik khadam Rasulullah saw. Ibunya yang bernama Ummu Sulaim membawanya kepada Rasul, sedang umurnya pada waktu itu baru sepuluh tahun, seraya katanya: “Ya Rasulallah … ! Ini Anas, pelayan anda yang akan melayani anda, doakanlah ia kepada Allah!”

Rasulullah mencium anak itu antara kedua matanya lalu mendoakannya, doa mana tetap membimbing usianya yang panjang ke arah kebaikan dan keberkahan . . . . Rasul telah mendoakannya dengan kata-kata berikut: — “Ya Allah banyak­kanlah harta dan anaknya, berkatilah ia dan masukkanlah ia ke surga … !”

Ia hidup sampai usia 99 tahun dan diberi-Nya anak dan cucu yang banyak, begitu pula Allah memberinya rizqi, berupa kebun yang luas dan subur, yang dapat menghasilkan panen buah-buahan dua kali dalam setahun …

Yang kedua dari dua bersaudara itu ialah Barra’ bin Malik …. Ia termasuk golongan terkemuka dan terhormat, menjalani kehidupannya dengan bersemboyan “Allah dan surga. . . . “. Dan barang siapa melihatnya ia sedang berperang mempertahankan Agama Allah, niscaya akan melihat hal ajaib di balik ajaib … !
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Abu Hurairah


ABU HURAIRAH


ABU HURAIRAH
OTAKNYA MENJADI

GUDANG PERBENDAHARAAN PADA MASAH WAHYU

Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan peng­hargaan ….

Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka . .. . Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan … Abu Hurairah r.a. mem­punyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam seni meng­hafal dan menyimpan . . . . Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia sertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, Serta meriwayatkannya.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata:  ”Berkata Abu Hurairah . . . “.

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di­habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.’
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Abbas Bin Abdul Muthalib


ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB

 

ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB
PENGURUS AIR MINUM UNTUK KOTA SUCI MEKAH

DAN MADINAH (HARAMAIN)

Pada suatu musim kemarau, di waktu penduduk dan negeri ditimpa kekeringan yang sangat, keluarlah Amirul Mu’minin Umar bersama-sama Kaum Muslimin ke lapangan terbuka, melakukan shalat istisqa’ (minta hujan), dan berdu’a merendah­kan diri kepada Allah yang Penyayang agar mengirimkan awan dan menurunkan hujan kepada mereka ….

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan Abbas dengan tangan kanannya, diangkatkannya ke arah langit sembari ber­kata:  ”Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami . . . . Ya Allah, sekarang kami meminta hujan pula perantaraan paman Nabi-Mu, maka mohonlah kami diberi hujan … !”

Belum lagi sempat Kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah awan tebal dan hujan lebat pun turunlah, mendatangkan sukacita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para shahabat pun menemui Abbas, memagut dan men­ciumnya Serta mengambil berkat dengannya sambil berkata:  ”Selamat kami ucapkan untuk anda, wahai penyedia air minum Haramain (Mekah – Madinah) … !”

Nah, siapakah dia penyedia air minum Haramain ini? Dan siapakah orang yang dijadikan Umar sebagai perantara baginya kepada Allah, padahal. Umar sudah tak asing lagi bagi kita ketaqwaannya, kedahuluannya masuk Islam, serta kedudukannya di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya serta di sisi orang-orang beriman . . . ?

Ia adalah Abbas, paman Rasulullah saw. Rasul memulyakannya sebagaimana ia pun mencintainya, juga memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan budi pekertinya, sabdanya:

“Inilah orang tuaku yang masih ada ……Inilah dia Abbas bin Abdul Mutthalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah … !

Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi dan Shahabatnya, demikian pula halnya Abbas paman dan teman sebayanya, se­moga Allah ridla keduanya … !
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Abu Ayyub Al-Anshari


ABU AYYUB AL-ANSHARI

ABU AYYUB AL-ANSHARI
“PEJUANG DI WAKTU SENANG ATAU PUN SUSAH”

Rasulullah memasuki kota Madinah, dan dengan demikian berarti beliau telah mengakhiri perjalanan hijrahnya dengan gemilang, dan memulai hari-harinya yang penuh berkah di kampung hijrah, untuk mendapatkan apa yang telah disediakan qadar Ilahi baginya, yakni sesuatu yang tidak disediakannya bagi manusia-manusia lainnya ….

Dengan mengendarai untanya Rasulullah berjalan di tengah­-tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan se­mangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu …. berdesak­-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-­masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya ….

Rombongan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf; mereka mencegat jalan unta sembari berkata: “Wahai Rasul Allah tinggallah anda pada kami, bilangan kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin . . . !”

Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah:

“Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanakan perintah . . . !”

Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, lalu ke kampung Bani Sa’idah, terus ke kampung Bani Harits ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani ‘Adi bin Najjar . . . . Setiap suku atau kabilah itu mencoba mencegat jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi saw. sudi membahagiakan mereka dengan menetap di. kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur di bibirnya ujarnya: “Lapangkan jalannya, karena ia terperintah . . .

Nabi sebenarnya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya . . . . Di atas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan nur-Nya ke seantero dunia …. Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan batu kasar . . . , tidak terdapat di sana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya … !

Tempat ini akan dihuni oleh seorang Maha guru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang Sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan ke­selamatan  bagi mereka yang berkata:”Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap di atas pendirian … bagi mereka yang beriman dan tidak mencampur­kan keimanan itu dengan keaniayaan . . . , bagi mereka yang. mengikhlaskan Agama mereka  untuk Allah . . . dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa . . . .

Benarlah Rasul telah menyerahkan sepenuhnya pemilih­an ini kepada qadar Ilahi yang akan memimpin langkah per­juangannya kelak . . . . Oleh karena inilah ia membiarkan Saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya … hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diaerahkan dirinya kepada-Nya dengan berdoa:

“Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkanlah untukku … !”
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Zaid Bin Tsabit


ZAID BIN TSABIT

 

ZAID BIN TSABIT
PENGHIMPUN KITAB SUCI AL-QURAN

Bila anda membawa al-Quran dengan tangan kanan anda, dan menghadapkan wajah anda kepada-Nya dengan sepenuh hati, dan selanjutnya menelusuri lembaran demi lembaran, surat demi surat atau ayat demi ayat, maka ketahuilah bahwa di antara orang-orang yang telah berjasa besar terhadap anda, hingga anda dapat bersyukur dan mengenal karya besar ini, adalah seorang manusia utama namanya Zaid bin Tsabit.

Dan dalam mengikuti peristiwa-peristiwa pengumpulan al-Quran sampai menjadi satu mushaf (buku), akan selalulah diingat orang bahkan tak dapat dilupakan nama shahabat besar ini.

Dan di kala diadakan penaburan bunga sebagai penghormatan dan kenang-kenangan terhadap mereka yang mendapat berkat karena jasa mereka yang tak ternilai dalam menghimpun, menyusun, menertibkan dan memelihara kesucian al-Quran, maka Zaid bin Tsabit merupakan pribadi yang mempunyai hak atau jatah terbesar dalam menerima bunga-bunga penghormatan dan penghargaan itu.

Ia adalah seorang Anshar dari Madinah …. Sewaktu Rasul­ullah saw. datang berhijrah ke Madinah, umurnya baru 11 tahun. Anak kecil ini ikut masuk Islam bersama-sama keluarganya yang lain yang menganut Islam, dan ia mendapat berkat karena didoakan oleh Rasulullah saw

Ia dibawa oleh orang tuanya berangkat bersama-sama ke perang Badar tapi Rasulullah menolaknya ikut, karena umur dan tubuhnya yang masih kecil.

Di perang Uhud ia menghadap lagi bersama teman-teman sebayanya kepada Rasul. Dengan berhiba-hiba, mereka memohon agar dapat diterima Rasul dalam barisan Mujahidin, bahkan para keluarga anak-anak ini menyokong permintaan itu dengan gigih, penuh pengharapan . . . .

Rasul melayangkan pandangannya ke pasukan berkuda cilik itu dengan pandangan terima kasih. Tapi kelihatannya beliau masih keberatan untuk membawa mereka dalam barisan mem­sela dan mempertahankan Agama Allah.
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Umeir Bin Sa'ad


UMEIR BIN SA’AD

 

UMEIR BIN SA’AD
TOKOH YANG TAK ADA DUANYA

Masih ingatkah anda sekalian akan Sa’id bin Amir . .. ? Yaitu seorang zahid dan abid yang selalu melindungkan dirinya kepada Allah, yang telah diminta oleh Amirul Mu’minin Umar untuk menjadi gubernur dan kepala daerah Syria. . . ?

Pada bagian pertama dari buku ini telah kita bicarakan dan kita saksikan hal-hal mena’ajubkan mengenai keshalehan, ketinggian akhlak dan sifat zuhudnya … !

Nah, sekarang pada lembaran-lembaran ini kita akan ber­temu pula dengan saudara, bahkan saudara kembarnya, baik dalam keshalehan, maupun dalam ketinggian akhlak dan sifat zuhud itu, begitupun dalam kebesaran jiwa yang jarang tan­dingannya … !

la adalah Umeir bin Sa’ad! Kaum Muslimin memberinya gelar “Tokoh yang tak ada duanya”. Cukup kiranya meyakin­kan, bahwa gelar ini diberikan secara bulat oleh para shahabat Rasul yang sama-sama mempunyai kelebihan, pengertian dan cahaya kebenaran …. !

Ayahnya Sa’ad al-Qari r.a. ikut menyertai Rasulullah dalam perang Badar dan peperangan-peperangan lain sesudahnya, serta setia memegang janjinya, sampai ia kembali menemui Allah karena gugur sebagai syahid di pertempuran Qadiaiah melawan Perri. Dibawanya anaknya sewaktu datang kepada Rasulullah hingga anak itu pun turut bai’at dan masuk Islam ….

Semenjak Umeir memeluk Islam, dan menjadi ahli ibadah yang tidak berpiaah dari mihrab mesjid, ia meninggalkan segala kemewahan dan pergi bernaung ke bawah sakinah atau ke­tenangan.

Sukarlah anda akan menemukannya di bariaan pertama . . . , kecuali pada jama’ah shalat, memang ia mempertahankan shaf yang pertama itu untuk mengejar pahala bariaan muka … ; dan di medan jihad, ia selalu bergegas mengejar bariaan terdepan, karena ia selalu mendambakan diri untuk mendapatkan syahid. Selain dari hal-hal seperti itu, maka ia tetap tekun memperbanyak amal kebaikan, kepemurahan, keutamaan Serta ketaqwa­an….
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Khubaib Bin 'Adi


KHUBAIB BIN ‘ADI


KHUBAIB BIN ‘ADI
PAHLAWAN YANG SYAHID DI KAYU SALIB

Dan kini ….

Lapangkanlah jalan kepada pahlawan ini, wahai para shahabat …. Mari kemari, dari segenap penjuru dan tempat …. Datang­lah ke sini, secara mudah atau bersusah payah …. Kemarilah bergegas dengan menundukkan hati . . . . Menghadaplah untuk mendapatkan pelajaran dalam berkurban yang tak ada tandingan­nya …. Mungkin anda sekalian akan berkata: “Apakah semua yang telah anda ceritakan kepada kami dulu bukan merupakan pelajaran-pelajaran tentang pengurbanan yang jarang tanding­annya?”

Benar . . . , semuanya pelajaran, dan kehebatannya tak ada tandingan dan imbangannya …. Tapi kini kalian berada di muka seorang maha guru baru dalam mata pelajaran seni berqurban Seorang guru, seandainya anda ketinggalan menghadiri kuliahnya, anda akan kehilangan banyak kebaikan-kebaikan yang tidak terkira . . . . Mari bersama kami, wahai penganut aqidah dari setiap ummat dan tempat. Mari bersama kami, wahai pengagum ketinggian dari segala masa dan zaman . . . . Kamu juga, wahai orang-orang yang telah sarat oleh beban penipuan diri dan berprasangka buruk terhadap Agama dan iman . . . .

Marilah datang dengan kebanggaan palsumu itu . . . . Marilah, dan perhatikanlah bagaimana Agama Allah itu telah membentuk dan menempa tokoh-tokoh terkemuka …. Marilah perhatikan oleh kalian! Kemuliaan yang tiada tara … kegagahan sikap,
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Zubair Bin Awwam


ZUBAIR BIN AWWAM


ZUBAIR BIN AWWAM

PEMBELA RASULULLAH SAW.

Setiap tersebut nama Thalhah, pastilah disebut orang nama Zubair! Begitu pula setiap disebut nama Zubair, pastilah disebut orang pula nama Thalhah . . . ! Maka sewaktu Rasulullah saw. mempersaudarakan para shahabatnya di Mekah sebelum Hijrah, beliau telah mempersaudarakan antara Thalhah dengan Zubair.

Sudah semenjak lama Nabi saw. memperkatakan keduanya secara bersamaan . . . , seperti kata beliau: “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga”. Dan kedua mereka berhimpun bersama Rasul dalam kerabat dan keturunan.

Adapun Thalhah bertemu asal-usul turunannya dengan Rasul pada Murrah bin Ka’ab. Sedang Zubair bertemu pula asal­-usulnya dengan Rasulullah pada Qusai bin Kilab, sebagaimana pula ibunya Shafiah, adalah saudara bapak Rasulullah
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Thalhah bin Ubaidillah


THALHAH BIN UBAIDILLAH


THALHAH BIN UBAIDILLAH

PAHLAWAN PERANG UHUD

“Di antara orang-orang Mu’min itu terdapat sejumlah laki­-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga … ! “

Setelah Rasulullah saw. membacakan ayat yang mulia ini, beliau menatap wajah para shahabatnya sambil menunjuk kepadaThalhah sabdanya:

“Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi,  padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah …

Tak ada satu kegembiraan yang paling didambakan oleh shahabat Rasul, di mana hati mereka terbang merindukannya, melebihi kedudukan seperti yang disandangkan Rasul kepada Thalhah bin Ubaiaillah ini! Karena itu, tidak heran bila Thalhah hatinya tenteram mendengar akhir hayatnya serta kesudahan nasibnya dalam hidup ini . . . . Ia akan hidup dan mati dan termasuk salah seorang dari mereka yang menepati benar apa, yang telah mereka janjikan kepada Allah, dan ia tak terkena fitnah dan tidak mendapat kesukaran …. la telah digembirakan Rasul akan beroleh surga. Nah, bagaimanakah riwayat kehidupannya, orang yang telah diramalkan akan berbahagia itu …. ?

Dalam perjalanannya berniaga ke kota Bashra, Thalhah sempat berjumpa dengan seorang pendeta yang amat baik. Di waktu itu sang pendeta memberi tahu padanya, bahwa Nabi yang akan muncul di tanah Haram, sebagaimana telah diramalkan oleh para Nabi yang shaleh, masanya telah datang menampakkan diri . . . . Diperingatkannya Thalhah agar tidak ketinggalan menyertai kafilah kerasulan itu, yaitu kafilah pembawa petunjuk rahmat dan pembebasaan ….

Dan sewaktu Thalhah tiba kembali di negerinya Mekah sesudah berbulan-bulan dihabiskannya di Bashra dan dalam perjalanan, ia menangkap bisik-bisik penduduk . .. dan mendengar percakapan tentang “Muhammad al-Amin” . . . dan tentang wahyu yang datang kepadanya . . . begitu pun tentang kerasulan yang dibawanya kepada seluruh ummat manusia . . . .

Orang yang mula-mula ditanyakan Thalhah ialah Abu Bakar.

Maka diketahuinyalah bahwa ia baru saja pulang dengan kafilah beserta barang perniagaannya, dan bahwa ia berdiri di samping Muhammad saw. selaku Mu’min, sebagai pembela yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

 

Thalhah berbicara kepada dirinya sendiri: ‘Muhammad saw. dan Abu Bakar? Demi Allah, tak mungkin kedua orang ini akan bersekongkol dalam kesesatan kapan pun!”

Muhammad saw. telah mencapai usia 40 tahun. Kita belum pernah mengenal kebohongannya sekalipun dalam jangka usianya yang sekian lama itu …. Apakah mungkin ia berdusta hari ini terhadap Allah, . . .. lalu mengatakan bahwa Tuhan telah mengutusnya dan mengirimkan wahyu kepadanya . . . ? Suatu hal yang tidak masuk akal … !

Thalhah mempercepat langkahnya menuju rumah Abu Bakar. Tak berlangsung lama pembicaraan di antara keduanya, maka rindunya hendak menemui Rasulullah saw. dan hasratnya hendak berjanji setia kepadanya serasa semakin cepat dari debar jantung­nya sendiri . . . . Ia ditemani Abu Bakar pergi kepada Rasulullah saw. di mana ia menyatakan keislamannya dan mengambil tempat dalam kafilah yang diberkati ini … dari angkatan pertama. Begitulah Thalhah termasuk orang yang memeluk Islam pada angkatan terdahulu

Sekalipun ia orang yang terpandang dalam kaumnya, dan seorang hartawan besar dengan perniagaannya yang selalu me­ningkat, namun ia tidak luput menderitakan penganiayaan dari orang-orang Quraisy karena Islam. Untunglah ia dan Abu Bakar mendapat perlindungan dari Naufal bin Khuwailia, si Singa Quraisy paman Khadijah istri Rasul …. Sehingga penganiayaan terhadap keduanya tidak berlangsung lama, karena orang-orang musyrik Quraisy merasa Segan kepadanya serta takut pula akan akibat perbuatan mereka . . . .
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Zaid Ibnul Khatthab


ZAID IBNUL KHATTHAB


ZAID IBNUL KHATTHAB
RAJAWALI PERTEMPURAN YAMAMAH

Pada suatu hari Nabi saw. duduk dikelilingi sejumlah orang­-orang Islam. Selagi pembicaraan berlangsung, tiba-tiba Rasulullah terdiam sejenak, kemudian beliau menghadapkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya dengan ucapan:

“Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki, gerahamnya di dalam neraka, lebih besar dari gunung Uhud. . . !”

Semua yang hadir dalam majlis beserta Rasulullah saw. ini senantiasa, diliputi ketakutan dan kecemasan akan timbulnya fitnah dalam Agama kelak . . . . Masing-masing mereka merasa kecut dan takut, kalau-kalau ia lah yang akan menerima nasib yang paling jelek dan kesudahan yang terkutuk itu . . . ! Tetapi mereka semua, yang mendengar pembicaraan waktu itu, kehidupannya telah berakhir dengan kebaikan, mereka telah menemui ajal mereka sebagai syuhada di jalan Allah. Yang tinggal masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah.

Setelah gugur sebagai syuhada para shahabat tersebut di atas, Abu Hurairah merasa seluruh persendiannya gemetar dan hatinya diliputi ketakutan, kalau-kalau ramalan Nabi itu me­nimpa dirinya. Matanya tak mau terpejam ditidurkan, dan belum tenang rasa cemasnya, sampai taqdir menyingkapkan tabir orang yang bernasib celaka itu . . . . Orang yang bernama Rajjal itu
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Abu Darda


ABU DARDA

ABU DARDA
SEORANG BUDIMAN DAN AHLI HIKMAT YANG LUAR BIASA

Selagi balatentara Islam berperang kalah menang di beberapa penjuru bumi, sementara itu di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmat dan filosof yang mengagumkan, yang dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai.

la senantiasa mengucapkan kata-kata kepada masyarakat sekelilingnya, : “Maukah anda sekalian, aku kabarkan amalan­-amalan yang terbaik, amalan yang terbersih di siai Allah dan paling meninggikan derajat anda, lebih baik daripada memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang leher anda, dan malah lebih baik dari uang mas dan Perak. . . ?”

Para pendengarnya sama menjulurkan kepala mereka ke muka karena ingin tahu, lalu segera menanyakan: “Apakah itu wahai Abu Darda’ . . . ?” Abu Darda’ memulai bicaranya dengan wajah berseri-seri, di bawah cahaya iman dan hikmat, lalu men­jawab: “‘Dzikrullah .. .. ” — menyebut Serta mengingat nama. Allah — “Wa-ladzikrullahi akbar” — dan sesungguhnya dzikir kepada Allah itu lebih utama —.

Bukanlah maksud ahli hikmat yang mengagumkan ini meng­anjurkan orang menganut filsafat memencilkan diri, dan bukan Pula dengan kata-katanya itu ia menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak Pula agar mengabaikan hasil Agama yang baru ini, yakni hasil yang telah dicapai dengan jihad atau kerja mati­-matian.

Benar . . . , Abu Darda’ bukanlah tipe orang yang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan Agama ber­sama Rasulullah saw. sampai datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Mekah …
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Umeir Bin Wahab


UMEIR BIN WAHAB


UMEIR BIN WAHAB
JAGOAN QURAISY YANG BERBALIK MENJADI PEMBELA ISLAM YANG GIGIH

Di perang Badar ia termasuk salah seorang pemimpin Quraisy yang menghunus pedangnya untuk menumpas Islam. la seorang yang tajam penglihatan dan teliti perhitungannya. Oleh karena itulah ia diutus kaumnya untuk menyelidiki jumlah Kaum Muslimin yang ikut pergi berperang dengan Rasul, dan untuk mengamat-amati apakah di belakang itu ada balabantuan atau yang masih bersembunyi ….

Umeir bin Wahab al-Jambi pun berangkatlah, dan dengan kudanya ia dapat mengamati sekeliling perkemahan pasukan Muslimin, kemudian kembalilah ia memberi laporan kepada kaumnya, bahwa kekuatan mereka kurang lebih tigaratus orang dan perkiraannya itu ternyata benar.

Lalu mereka menanyainya, apakah di belakang itu ada bala bantuan, yang dijawabnya: “Aku tidak melihat apa-apa lagi dibelakang mereka … tetapi wahai kaum Quraisy, terbayang

di hadapanku pusara-pusara menganga yang menantikan jasad mereka . . . ! Mereka adalah kaum yang tidak mempunyai peranan dan perlindungan kecuali pedang mereka sandiri … ! Demi Allah, tidak mungkin salah seorang di antara mereka terbunuh, tanpa terbunuhnya seorang di antara kita sebagai imbalannya! Maka apabila jumlah kita yang tewas sama dengan jumlah mereka, kehidupan mane lagi yang lebih baik setelah itu…!” … ? Nah, cobalah kamu fikirkan baik-baik … j.

Kata-kata dan buah fikirannya itu berkesan dan berpengaruh kepada sebagian di antara pemimpin-pemimpin Quraisy, dan hampir saja mereka menghimpun laki-laki mereka untuk kembali pulang ke Mekah tanpa perang, seandainya Abu Jahal tidak merusakkan fikiran tersebut. Dikobarkannyalah api kebencian ke dalam jiwa mereka, tegasnya api peperangan di mana ia sendiri tewas sebagai korbannya yang pertama …
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Qeis Bin Sa'ad Bin 'Ubadah


QEIS BIN SA’AD BIN ‘UBADAH

 

QEIS BIN SA’AD BIN ‘UBADAH
KALAU TIDAKLAH KARENA ISLAM,MAKA IA LAH AHLI TIPU MUSLIHAT ARAB YANG PALING LIHAI … !

Walaupun usianya masih muda, orang-orang Anshar me­mandangnya seperti seorang pemimpin …. Mereka mengatakan: “Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami, niscaya akan kami lakukan”. Sebabnya is berwajah licin, tak ads suatu pun kekurangan dari sifat-sifat kepemimpin­annya yang lazim terdapat pada adat kebiasaan kaumnya, selain soal janggut yang oleh para pria dijadikan sebagai tanda ke­jantanan pada wajah-wajah mereka.

Nah, siapakah kiranya pemuda yang sangat dicintai kaumnya ini, sampai-sampai mereka siap mengurbankan harta untuk membelikan janggut yang akan menghiasi mukanya, sebagai penyempurnaan  bentuk luarnya bagi kebesaran hakiki dan kepemimpinan yang    tinggi yang sudah dimilikinya … ?

Itulah dia Qeis bin Sa’ad bin ‘Ubadah!

Berasal dari keluarga Arab yang paling dermawan dari turunan­nya yang mulia . . . . suatu keluarga yang Rasulullah saw. pernah berkata terhadapnya:

“Kedermawanan menjadi tabi’at anggota keluarga ini!”

Ia adalah seorang lihai yang banyak tipu muslihat, seorang Yang mahir, licin dan cerdik, dan orang yang terus terang mengatakan secara jujur tentang dirinya:

“Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membikin tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab mana pun!” Sebabnya, karena ia adalah seorang yang tinggi kecerdasannya, banyak akal dan encer otaknya.

Pada peristiwa Shiffin ia berdiri di fihak Ali menentang Mu’awiyah . . . . Maka duduklah ia merencanakan sendiri tipu muslihat yang mungkin akan membinasakan Mu’awiyah dan para pengikutnya di suatu hari atau pada suatu ketika kelak. Namun ketika ia menyaring macam-macam muslihat yang telah memeras kecerdasannya. Namun, ketika ia menyaring itu disadarinya bahwa itu adalah suatu muslihat jahat yang membahayakan. Maka teringatlah ia akan firman Allah swt.:

“Dan tipu days jahat itu akan hembali menimpa orangnya sendiri!”   (Q.S. 35 al-Fathir:43)

Maka ia pun segera bangkit, lalu membatalkan cara-cara tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, serta mulutnya seakan-akan hendak mengatakan: “Demi Allah, seandainya Mu’awiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena keshalehan dan ketaqwaan kita . . . . “.

Sesungguhnya pemuda Anshar suku Khazraj ini, adalah dari suatu keluarga pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia dari seorang pemimpin besar kepada pemimpin besar pula . . . . Ia anak dari Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin Khazraj, yang akan kita temui riwayatnya di belakang kelak.

Sewaktu Sa’ad masuk Islam, ia membawa anaknya Qeis dan menyerahkannya kepada Rasul sambil berkata: “Inilah khadam anda ya Rasulallah!” Rasul dapat melihat pada diri Qeis segala tanda-tanda keutamaan dan ciri-ciri kebaikan . . .  Maka dirangkul dan didekatkannya ke dirinya dan senantiasalah Qeis menempati kedudukan di sisi Nabi ….

Anas, shahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Kedudukan  Qeis bin Sa’ad di sisi Nabi, tak ubah seperti ajudan”.

Selagi Qeis memperlakukan orang-orang lain sebelum ia masuk Islam dengan segala kecerdikannya, mereka tak tahan akan kelihaiannya. Dan tak ada seorang pun di kota Madinah dan sekitarnya yang tidak memperhitungkan kelihaiannya ini secara hati-hati. Maka setelah ia memeluk Islam, Islam mengajarkan kepadanya untuk memperlakukan manusia dengan kejujuran, tidak dengan kelicikan. Ia adalah seorang anak muda yang banyak – amalnya untuk Islam, karena itu di kesampingkannya kelihaiannya, dan tidak hendak mengulangi lagi tindakan-tin­dakan liciknya masa silam. Setiap ia menghadapi suatu kejadian yang sukar, ia ingat kepada prakteknya yang lama, segera sadar­kan diri lalu diucapkannyalah kata-katanya yang bersayap:

“Kalau bukan karena Islam, akan kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab . . .!”

Tak ada perangai lain pada dirinya yang lebih menonjol dari kecerdikannya kecuali kedermawanannya . . . . Dermawan dan pemurah bukanlah merupakan perangai baru bagi Qeis, karena ia adalah dari keluarga yang turun-temurun terkenal dermawan dan pemurah.

Bagi Qeis sebagai telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang paling dermawan dan suka membantu di antara suku-suku Arab, ada petugas yang Bering berdiri di tempat ketinggian memanggil para tamu untuk makan Siang bersama mereka …. atau sengaja menyalakan api di malam hari untuk menjadi petunjuk bagi para musafir yang lewat. Orang-orang di zaman itu mengatakan: “Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silahkan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Hari­tsah . . . !” Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua dari Qeis. Di rumah bangsawan inilah Qeis mendapat didikan kedermawan­an dan kepemurahan ….

Di suatu hari Umar dan Abu Bakar bercakap-cakap sekitar kedermawanan dan kepemurahan Qeis sambil. berkata: “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya … !” Pembicaraan tentang anaknya itu, sampai kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, maka serunya: “Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar …?

Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku … !”

Pada suatu hari pernah ia memberi pinjaman pada salah seorang kawannya yang kesukaran dengan jumlah besar . . . . Pada hari yang telah ditentukan guna melunasi utang, pergilah orang itu untuk membayarnya kepada Qeis. Ternyata Qeis tidak bersedia menerimanya, ia hanya berkata: “Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan!”

Fithrah manusia mempunyai kebiasaan yang tak pernah berubah, dan sunnah (hukum) yang jarang berganti-ganti yaitu.: di mana terdapat kepemurahan, terdapat pula keberanian …. Benarlah . . – , sesungguhnya dermawan sejati dan keberanian sejati adalah dua saudara kembar yang tak pernah berpisah satu dari lainnya untuk selama-lamanya. Dan bila anda menemukan kedermawanan tanpa keberanian, ketahuilah bahwa yang anda temukan itu bukanlah sebenarnya kepemurahan …. tetapi suatu gejala kosong dan bohong dari gejala-gejala melagakkan diri dan membusungkan dada. Demikian pula bila bertemu keberanian yang tidak disertai kepemurahan, ketahuilah pula bahwa itu bukanlah keberanian sejati, ia tak lain serpihan dari berani membabi buta dan kecerobohan!

Maka tatkala Qeis bin Sa’ad memegang teguh kendali ke­pemurahan dengan tangan kanannya, ia pun memegang kuat tali keberanian dan kepeloporan dengan tangan kirinya. Seolah-­olah ialah yang dimaksud dengan ungkapan sya’ir:

“Apabila bendera kemuliaan telah dikibarkan. Maka segala kekejian berubah menjadi kebaikan”.

Keberaniannya telah termashur pada semua medan tempur yang dialaminya beserta Rasulullah saw. selagi beliau masih hidup …. Dan kemasyhuran itu bersambung pada pertempuran­pertempuran yang diterjuninya sesudah Rasul meninggal dunia. Keberanian yang selalu berlandaskan kebenaran dan kejujuran sebagai ganti kelihaian dan kelicikan … dengan mempergunakan cara terbuka dan terus terang secara berhadap-hadapan, bukan dengan menyebarkan isyu dari belakang dan tidak pula dengan tipu muslihat busuk, tentu saja membebani dirinya dengan ke­sukaran dan kesulitan yang menekan. Semenjak Qeis membuang jauh kemampuannya yang luar biasa dalam berdiplomasi licik dan bersilat lidah curang, dan ia membawakan diri dengan perangai berani secara terbuka dan terus terang, maka ia merasa puas dengan pembawaan yang baru ini, dan bersedia memikul akibat dan kesukaran yang silih berganti dengan hati yang rela ….

sesungguhnya keberanian sejati memancar dari kepuasan pribadi orang itu sendiri . . . . Kepuasan ini bukan karena dorong­an hawa nafsu dan keuntungan tertentu, tetapi disebabkan oleh ketulusan diri pribadi dan kejujuran terhadap ke­benaran – - – .

Demikianlah, sewaktu timbul pertikaian di antara Ali dan Mu’awiyah, kits lihat Qeis bersunyi-sunyi memencilkan dirinya. Dan terus berusaha mencari kebenaran dari celah-celah kepuasan­nya itu. Hingga akhirnya demi dilihatnya kebenaran itu berada pada pihak Ali, bangkitlah ia dan tampil ke sampingnya dengan gagah berani, teguh hati dan berjuang secara mati-matian. Di medan perang Shiffin, Jamal dan Nahrawan, Qeis merupakan salah seorang pahlawannya yang berperang tanpa takut mati …. Dialah yang membawa bendera Anshar dengan meneriakkan:

“Bendera inilah bendera persatuan ….
Berjuang bersama Nabi dan Jibril pembawa bantuan.
Tiada gentar andaikan hanya Anshar pengibarnya.
Dan tiada orang lain menjadi pendukungnya”.

Dan sesungguhnya Qeis telah diangkat oleh Imam Ali sebagai gubernur Mesir . . . . Tapi sudah semenjak lama Mu’awiyah selalu mengincerkan matanya ke wilayah ini. la memandangnya sebagai permata berlian yang paling berharga pada suatu mahkota yang amat didambakannya . . . . Oleh karena itu tidak lama setelah Qeis memangku jabatan sebagai Kepala Daerah itu, hampir terbit gilanya karena takut Qeis akan menjadi halangan bagi cita-citanya terhadap Mesir sepanjang masa, bahkan sekalipun ia beroleh kemenangan nanti atas Imam Ali dengan ke­menangan yang menentukan ….

Begitulah Mu’awiyah berusaha dengan tipu daya dan mus­lihat yang tidak terbatas pada suatu corak saja, membangkitkan kemarahan yang tidak terbatas dari Imam Ali terhadap Qeis, sampai akhirnya Imam Ali memanggilnya dari Mesir ….

Di sini Qeis memperoleh kesempatan yang menguntungkan untuk mempergunakan kecerdasannya dengan berencana. la telah mengetahui berkat kecerdasannya bahwa Mu’awiyahlah yang memegang peranan dalam memfitnahnya, setelah ia gagal menarik Qeis ke pihaknya untuk memusuhi Imam Ali dan mempergunakan kepemimpinannya untuk membantunya.

Maka untuk mematahkan tipu daya tersebut, Qeis mem­perkuat sokongannya terhadap Ali dan terhadap kebenaran yang diwakili Ali. seorang pemimpin yang saat itu tempat tersangkut­nya kesetiaan dan kepercayaan teguh dari Qeis bin Sa’ad bin Tbadah . . . .

Demikianlah, tidak sedikit pun dirasakannya bahwa Imam Ali telah memecatnya dari Mesir …. Bagi Qeis, tak ada artinya wilayah kekuasaan, tak ada artinya pangkat kepemimpinan dan jabatan. Semuanya itu baginya hanyalah sekedar sarana guna mengabdikan diri bagi aqidah dan Agamanya . . . . Sekalipun jabatan Kepala Daerah di Mesir itu merupakan suatu jalan untuk mengabdikan diri kepada yang haq, namun kedudukan di dekat Imam Ali di medan laga adalah suatu jalan lain yang tak kurang penting dan menggairahkan ….

Keberanian Qeis mencapai puncak kejujurannya dan kema­tangannya sesudah syahidnya Ali dan dibai’atnya Hassan . . . Sesungguhnya Qeis memandang Hassan r.a. sebagai tokoh yang cocok menurut syari’at untuk jadi Imam (Kepala Negara), maka berjanji setialah ia kepadanya, dan berdiri di sampingnya sebagai pembela, tanpa memperdulikan bahaya yang akan menimpa.

Dan di kala Mu’awiyah memaksa mereka untuk menghunus pedang, bangkitlah Qeis memimpin lima ribu prajurit dari orang­-orang yang telah mencukur kepala mereka sebagai tanda ber­kabung atas wafatnya Ali. Hassan mengalah dan lebih suka membalut luka-luka Muslimin yang telah sedemikian parah, maka disuruhnya menghentikan perang yang telah menghabiskan nyawa dan harta itu, lalu berunding dengan Mu’awiyah dan kemudian bai’at kepadanya.

Di sinilah Qeis mulai merenungkan lagi masalah tersebut, maka menurut pendapatnya, sekalipun pendirian Hassan adalah benar, maka pasukan Qeis tetap menjadi tanggung jawabnya dan pilihan terakhir terletak atas hasil keputusan musyawarah. Maka semua mereka dikumpulkannya, lalu ia berpidato di hadapan mereka sambil berkata:

“Jika kalian menginginkan perang, aku akan tabah berjuang bersama kalian sampai salah satu di antara kita diambil maut lebih dulu! Tapi jika kalian memilih perdamaian maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk itu . . . “.

Pasukan tentaranya memilih yang kedua maka dimintanya keamanan dari Mu’awiyah yang memberikannya dengan penuh sukacita, karena dilihatnya taqdir telah membebaskannya dari musuhnya yang terkuat, paling gigih serta berbahaya … !

Pada tahun 59 H. di kota Madinah al-Munawwarah, telah pulang ke Rahmatullah seorang pahlawan, yang dengan ke­islamannya dapat mengendalikan kecerdikan dan keahlian tipu muslihatnya serta menjadikannya obat penawar bisa.

Telah berpulang tokoh yang pernah berkata:
“Kalau tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah, bersabda:
“Tipu daya dan muslihat licik itu di dalam neraka”
Niscaya akulah yang paling lihai di antara ummat ini …

Ia telah tiada dalam kedamaian, dengan meninggalkan nama harum sebagai seorang laki-laki yang jujur, terus terang, der­mawan dan berani ….

Benar . .. , ia telah berpulang dengan mewariskan pusaka nama baik seorang laki-laki yang terpercaya, baik tentang watak keislamannya maupun tentang tanggung jawab dan menepati janji…

 
Sumber : http://sugengcido.blogspot.com/2012/05/memasang-tombol-share-dibawah-postingan.html#ixzz2Y4FcLqyv

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More