SA’AD BIN ABI WAQQASH
SA’AD
BIN ABI WAQQASH
SINGA YANG MENYEMBUNYIKAN KUKUNYA
SINGA YANG MENYEMBUNYIKAN KUKUNYA
Berita yang datang secara beruntun
menyatakan serangan licik yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Persi
terhadap Kaum Muslimin, amat menggelisahkan hati Amirul Mu’minin Umar bin
Khatthab …. Disusul kemudian dengan berita tentang pertempuran Jembatan, di
mana empat ribu orang pihak-Kaum Muslimin gugur sebagai syuhada dalam waktu
sehari, begitu pun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Irak
terhadap perjanjian-perjanjian yang mereka perbuat, Berta ikrar Yang telah
mereka akui . . . , menyebabkan khalifah mengambil keputusan untuk pergi dan
memimpin sendiri tentara Islam dalam perjuangan bersenjata yang menentukan,
melawan Persi.
Bersama beberapa orang shahabat dan
dengan menunggang kendaraan, berangkatlah ia dengan meninggalkan Ali karamallahu
wajhah di Madinah sebagai wakilnya. Tetapi belum berapa jauh dari kota,
sebagian anggota rombongan berpendapat dan mengusulkan agar ia kembali dan
memilih salah seorang di antara Para shahabat untuk melakukan tugas tersebut.
Usul ini diprakarsai oleh
Abdurrahman bin ‘Auf yang menyatakan bahwa menyia-nyiakan nyawa
Amirul Mu’minin dengan cara seperti ini, sementara. Islam sedang menghadapi
hari-harinya Yang menentukan, adalah perbuatan yang keliru.
Umar pun menyuruh Kaum Muslimin
berkumpul untuk bermusyawarah dan diserukanlah “Asshalata jami’ah “; sementara
Ali dipanggil datang, yang bersama beberapa orang penduduk
Madinah berangkat menuju tempat
perhentian Amirul Mu’minin. Akhirnya tercapailah persetujuan sesuai dengan apa
yang diusulkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf, dan peserta musyawarah memutuskan
agar Umar kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan
memimpin peperangan menghadapi Persi.
Amirul Mu’minin tunduk pada
keputusan ini, lalu menanyakan kepada para shahabat, siapa kiranya orang yang
akan dikirim ke Irak itu. Mereka sama tertegun dan berfikir. Tiba-tiba berserulah
Abdurrahman bin ‘Auf: “Saya telah menemukannya …!””Siapa dia?” tanya Umar.
Ujar Abdurrahman: “Singa yang
menyembunyikan kukunya, yaitu Saad bin Malik az-Zuhri!”
Pendapat ini disokong sepenuhnya
oleh Kaum Muslimin, dan Amirul Mu’minin meminta datang Sa’ad bin Malik az-Zuhri
yang tiada lain Sa’ad bin Abi Waqqash. Lalu diangkatnya sebagai Amir atau
gubernur militer di Irak yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai
panglima tentara.
Nah, siapakah dia singa yang
menyembunyikan kukunya itu, dan siapakah dia yang bila datang kepada Rasulullah
ketika berada di antara shahabat-shahabatnya, akan disambutnya dengan ucapan
selamat datang sambil bergurau, sabdanya: “Ini dia pamanku … ! Siapa orang
yang punya paman seperti pamanku ini … ?” Itulah dia Sa’ad bin Abi
Waqqash! Kakeknya ialah Uhaib, putera dari Manaf yang menjadi paman dari Aminah
ibunda dari Rasulullah saw.
Sa’ad masuk Islam selagi berusia 17
tahun, dan keislamannya termasuk yang terdahulu di antara para shahabat. Hal
ini pernah diceritakannya sendiri, katanya: “Pada suatu saat saya beroleh
kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam”. Maksudnya bahwa
ia adalah salah seorang di antara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.
Maka pada hari-hari pertama
Rasulullah menjelaskan tentang Allah Yang Esa dan tentang Agama baru yang
dibawanya, dan sebelum beliau mengambil rumah al-Arqam untuk tempat pertemuan
dengan shahabat-shahabatnya yang telah mulai beriman, Sa’ad bin Abi Waqqash
telah mengulurkan tangan kanannya untuk bai’at kepada Rasulullah saw.
Sementara itu buku-buku tarikh dan
riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia termasuk salah seorang yang masuk
Islam bersama dan atas hasil usaha Abu Bakar. Boleh jadi ia menyatakan
keislamannya secara terang-terangan bersama orang-orang yang dapat diyakinkan
oleh Abu Bakar, yaitu Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf
dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Dan ini tidak menutup kemungkinan bahwa ia lebih
dulu masuk Islam secara sembunyi-sembunyi.
Banyak sekali keistimewaan yang
dimiliki oleh Sa’ad ini, yang dapat ditonjolkan dan dibanggakannya. Tetapi di
antara semua itu dua hal penting yang selalu menjadi dendang dan senandungnya.
Pertama: bahwa dialah yang mula-mula melepaskan anak panah dalam membela Agama
Allah, dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan kedua: bahwa dia
merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua
orang tua beliau. Bersabdalah Rasulullah saw. di waktu perang Uhud:
“Panahlah hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu. . ..I”
“Panahlah hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu. . ..I”
Memang! Kedua ni’mat besar ini
selalu menjadi dendangan Sa’ad buah syukurnya kepada Allah, katanya: “Demi
Allah, sayalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah … !” Dan
berkata pula Ali bin Abi Thalib: “Tidak pernah saya dengar Rasulullah
menyediakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa’ad . . .
Saya dengar beliau bersabda waktu Perang Uhud:
“Panahlah, hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu. . ..I”
“Panahlah, hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu. . ..I”
Sa’ad termasuk seorang kesatria
berkuda Arab dan Muslimin yang paling berani. la mempunyai dua macam senjata
yang amat ampuh: panahnya dan do’anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan,
pastilah akan mengenai sasarannya . . . , dan jika ia menyampaikan suatu
permohonan kepada Allah pastilah dikabulkan-Nya . . .! Menurut Sa’ad
sendiri dan juga pars shahabatnya, hal itu adalah disebabkan do’a Rasulullah
juga bagi pribadinya. Pada suatu hari ketika Rasulullah menyaksikan dari Sa’ad
sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau, diajukannyalah do’a
yang maqbul ini:
“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’anya … ! “
“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’anya … ! “
Demikianlah ia terkenal di kalangan
saudara-saudara dan handai tolannya bahwa do’anya tak ubah bagai pedang yang
tajam. Hal ini juga disadari sepenuhnya oleh Sa’ad sendiri, hingga ia tak
hendak berdo’a bagi kerugian seseorang, kecuali dengan menyerahkan urusannya
kepada Allah Ta’ala. Sebagai contoh ialah peristiwa yang diriwayatkan oleh
‘Amir bin Sa’ad:
“Sa’ad mendengar seorang laki-laki
memaki ‘Ali, Thalhah dan Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu tak hendak
menurut, maka katanya: Walau begitu saya do’akan kamu kepada Allah “. Ujar
laki-laki itu: “Rupanya kamu hendak menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu
seorang Nabi . . . ‘Maka Sa’ad pun pergi wudlu dan shalat dua raka’at. Lalu
diangkatlah kedua tangannya, katanya: ‘Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu
laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah beroleh kebaikan dari-Mu,
dan tindakan mereka itu mengundang amarah murka-Mu, maka mohon dijadikan hal
itu sebagai pertanda dan suatu pelajaran … ! ” Tidak lama kemudian,
tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah, muncul seekor unta liar dan tanpa
dapat dibendung masuk ke dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ada yang
dicarinya. Lalu diterjangnya laki-laki tadi dan dibawanya ke bawah kakinya,
serta beberapa lama menjadi bulan-bulanan injakan dan sepakannya hingga
akhirnya tewas menemui ajalnya … ! “
Kenyataan ini pertama kali
mengungkapkan kebeningan jiwa, kebenaran iman dan keikhlasannya yang mendalam.
Begitu pula Sa’ad, jiwanya adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras
membaja serta keikhlasannya dalam
dan tidak bernoda. Dan untuk menopang ketaqwaannya ia selalu memakan yang
halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat.
Dalam kehidupan akhirnya Sa’ad
termasuk Kaum Muslimin yang kaya dan berharta. Waktu wafat, ia meninggalkan
kekayaan yang tidak sedikit. Tapi kalau biasanya harta banyak dan harta halal
jarang sekali dapat terhimpun, maka di tangan Sa’ad hal itu telah terjadi. Ia
dilimpahi harta yang banyak, yang baik dan yang halal sekaligus.
Di samping itu ia dapat dijadikan
seorang mahaguru pula dalam coal membersihkan harta. Dan kemampuannya dalam
mengumpulkan harta dari barang bersih lagi halal, diimbangi — bahkan mungkin
diatasi — oleh kesanggupan menafqahkannya di jalan Allah.
Ketika Hajji Wada’, Sa’ad ikut
bersama Rasulullah saw. Kebetulan ia jatuh sakit, maka Rasulullah datang
menengoknya.
Tanya Sa’ad: “Wahai Rasulullah, saya
punya harta dan ahli warisku hanya seorang puteri saja. Bolehkah saya shadaqahkan
dua pertiga hartaku?” “Tidak “jawab Nabi. “Kalau begitu, separohnya?”tanya
Sa’ad pula. “Jangan”, ujar Nabi. “Jadi, sepertiganya?” “Benar” ujar Nabi; dan
sepertiga itu pun sudah banyak . .. , lebih baik anda meninggalkan ahli waris
dalam keadaan mampu daripada membiarkannya dalam keadaan miskin dan menadahkan
tangannya kepada orang lain. Dan setiap nafqah yang anda keluarkan dengan mengharap
keridlaan Allah, pastilah akan diberi ganjaran,bahkan walau sesuap makanan yang
ands taruh di mulut isteri ands!”
Beberapa lama Sa’ad hanya mempunyai
seorang puteri. Tetapi setelah peristiwa di atas, ia beroleh lagi beberapa
orang putera. Karena takutnya kepada Allah, Sa’ad sering menangis. Jika
didengarnya Rasulullah berpidato dan menasihati ummat, air matanya bercucuran
hingga membasahi haribaannya. la adalah seorang shahabat yang diberi ni’mat
taufiq dan diterima ‘ibadahnya.
Pada suatu hari ketika Rasulullah
sedang duduk-duduk bersama para shahabat, tiba-tiba beliau menatap dan
menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu
bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para shahabat,
sabdanya:
“Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang lakilaki penduduk surga “.
“Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang lakilaki penduduk surga “.
Para shahabat pun nengok kiri kanan
dan ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang
beruntung beroleh taufiq dan karunia itu. Dan tidak lama antaranya muncullah
di hadapan mereka Sa’ad bin Abi Waqqash ….
Selang beberapa lama, Abdullah bin
‘Amr bin ‘Ash datang kepadanya meminta jasa baiknya dan mendesak agar menunjukkan
kepadanya jenis ibadat dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang
menyebabkannya berhak menerima ganjaran tersebut yang telah diberitakan
sehingga menjadi daya tarik untuk mengerjakannya:
Maka ujar Sa’ad: “Tak lebih dari
amal ibadat yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tak pernah menaruh dendam
atau niat jahat terhadap seorang pun di antara Kaum Muslimin!”
Nah, itulah dia “singa yang selalu menyembunyikan kukunya” yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf.
Nah, itulah dia “singa yang selalu menyembunyikan kukunya” yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf.
Dan inilah tokoh yang dipilih Umar
untuk memimpin pertempuran Qadisiyah yang dahsyat itu! Kenapa memilihnya untuk
melaksanakan tugas yang paling rumit yang sedang dihadapi Islam dan Kaum
Muslimin, karena keistimewaannya terpampang jelas di hadapan Amirul Mu’minin:
— Ia adalah orang
yang maqbul do’anya … ; jika ia memohon diberi kemenangan oleh Allah, pastilah
akan dikabulkan-Nya!
— la seorang yang hati-hati dalam makan, terpelihara lisan dan suci hatinya.
— Salah seorang anggota pasukan berkuda di perang Badar, di perang Uhud, pendeknya di setiap perjuangan bersenjata yang diikutinya bersama Rasulullah saw….
— Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tak dapat diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang hendak melakukan tugas penting, yaitu kekuatan dan ketebalan iman.
— la seorang yang hati-hati dalam makan, terpelihara lisan dan suci hatinya.
— Salah seorang anggota pasukan berkuda di perang Badar, di perang Uhud, pendeknya di setiap perjuangan bersenjata yang diikutinya bersama Rasulullah saw….
— Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tak dapat diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang hendak melakukan tugas penting, yaitu kekuatan dan ketebalan iman.
Umar tidak lupa akan kisah Sa’ad dengan
ibunya sewaktu ia masuk Islam dan mengikuti Rasulullah ….Ketika itu segala
usaha ibunya untuk membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah
mengalami kegagalan. Maka ditempuhnya segala jalan yang tak dapat tidak, pasti
akan melemahkan semangat Sa’ad dan akan membawanya kembali ke pangkuan agama
berhala dan kepada kaum kerabatnya.
Wanita itu menyatakan akan mogok
makan dan minum, sampai Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan
kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak
hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya.
Tetapi Sa’ad tidak terpengaruh oleh
hal tersebut, bahkan ia tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual Agama
dan keimanannya dengan sesuatu pun, bahkan walau dengan nyawa ibunya sekalipun.
Ketika keadaan ibunya telah demikian
gawat, beberapa orang keluarganya membawa Sa’ad kepadanya untuk menyaksikannya
kali yang terakhir, dengan hadapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat
ibunya dalam sekarat. Sesampainya di sana, Sa’ad menyaksikan suatu pemandangan
yang amat menghancurkan hatinya yang bagaikan dapat menghancurkan baja dan
meluluhkan batu karang ….
Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya, dan dikatakannya dengan suara kerns agar kedengaran olehnya:
Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya, dan dikatakannya dengan suara kerns agar kedengaran olehnya:
“Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda
seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu,
tidaklah anakanda akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga
. . .! Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda akan makan atau tidak … !”
Akhirnya ibunya mundur teratur, dan
turunlah wahyu menyokong pendirian Sa’ad serta mengucapkan selamat kepadanya,
sebagai berikut:
Dan seandainya kedua orang tun
memaksamu untuh mempersehutukan Ahu, padahal itu tidak sesuai dengan
pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti kedua‑
(Q.S. 31 Luqman: 15)
(Q.S. 31 Luqman: 15)
Nah, tidakkah ini betul-betul singa
yang menyembunyikan kukunya … ?
Jika demikian halnya, pantaslah Amirul Mu’minin dengan hati tenang memancangkan panji-panji Qadisiyah di tangan kanannya, dan mengirimnya untuk menghalau pasukan Persi yang tidak kuiang jumlahnya dari seratus ribu prajurit yang terlatih dan diperlengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang paling ditakuti dunia waktu itu, dipimpin oleh otak-otak perang yang paling jempol, dan ahli-ahli siasatnya yang paling cerdik dan licik … !
Jika demikian halnya, pantaslah Amirul Mu’minin dengan hati tenang memancangkan panji-panji Qadisiyah di tangan kanannya, dan mengirimnya untuk menghalau pasukan Persi yang tidak kuiang jumlahnya dari seratus ribu prajurit yang terlatih dan diperlengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang paling ditakuti dunia waktu itu, dipimpin oleh otak-otak perang yang paling jempol, dan ahli-ahli siasatnya yang paling cerdik dan licik … !
Memang, kepada tentara musuh yang
menakutkan inilah Sa’ad datang dengan membawa tigapuluh ribu mujahid, tidak
lebih . . .; di tangan masing-masing tergenggam panah dan tumbak. Hanya
sernata-mata panah dan tombak . . . tetapi dalam dada menyala kemauan dari
Agama baru, yang membuktikan keimanan, kehangatan, serta kerinduan yang luar
biasa terhadap maut dan mati syahid …
Dan kedua pasukan itu pun
bertemulah. Tetapi belum, mereka belum lagi bertempur. Di sana Sa’ad
masih menunggu bimbingan dan pengarahan dari Amirul Mu’minin Umar . . . . Di
bawah ini tertera surat Umar yang memerintahkannya segera berangkat ke
Qadisiyah, yang merupakan pintu gerbang memasuki Persi, ditancapkannya dalam
hatinya kalimat berharga yang semuanya merupakan petunjuk dan cahaya:
“Wahai Sa’ad bin Wuhaib! Janganlah
anda terpedaya di hadapan Allah, mentang-mentang dikatakan bahwa anda adalah
paman dan shahabat Rasulullah! Sungguh, tak ada hubungan keluarga antara
seseorang dengan Allah kecuali dengan mentaati-Nya! Semua manusia baik yang
mulia maupun yang hina, pada pandangan Allah serupa tidak berbeda . . . . Allah
Tuhan mereka, sedang mereka hambaNya . .. Mereka berlebih berkurang dalam
kesehatan, dan akan beroleh karunia yang tersedia di sisi Allah dengan
ketaatan. Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah anda lihat pada
Rasulullah saw. semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita dan pegang
teguhlah, karena itulah yang harus diikuti … ! “
Kemudian katanya pula:
“Tulislah kepadaku segala hal ikhwal tuan-tuan bagaimana kedudukan tuan-tuan, dan di mana pula posisi musuh terhadap tuan-tuan . .. , terangkan sejelas-jelasnya, hingga seolah-olah aku menyaksikan sendiri keadaan tuan-tuan … ! “
“Tulislah kepadaku segala hal ikhwal tuan-tuan bagaimana kedudukan tuan-tuan, dan di mana pula posisi musuh terhadap tuan-tuan . .. , terangkan sejelas-jelasnya, hingga seolah-olah aku menyaksikan sendiri keadaan tuan-tuan … ! “
Sa’ad pun menulis surat kepada
Amirul Mu’minin dan menuliskan segala sesuatu, hingga hampir saja
diterangkannya tempat dan posisi setiap prajurit secara terperinci.
Sa’ad telah sampai di Qadisiyah,
sementara seluruh tentara dan rakyat Persia berhimpun, sesuatu hal yang tak
pernah mereka lakukan selama ini. Kendali pimpinannya dipegang oleh panglimanya
yang ulung dan paling terkenal, yaitu Rustum.
Sebagai balasan surat dari Sa’ad
yang baru dikirimnya, Amirul Mu’minin menulis:
“Sekali-kali janganlah anda gentar
mendengar berita dan persiapan mereka! Bermohonlah kepada Allah dan tawakkallah
kepada-Nya! Dan kirimlah sebagai utusan, orang-orang yang cerdas dan tabah
untuk menyeru mereka ke jalan Allah . . .! Dan tulislah surat kepadaku setiap
hari … !”
Kembali Sa’ad mengirim surat kepada
Amirul Mu’minin, menyampaikan bahwa Rustum telah menduduki Sabath dengan
mengerahkan pasukan gajah dan berkudanya, dan mulai bergerak menuju Kaum
Muslimin . . . . Balasan dari Umar datang yang isinya memberi petunjuk dan
menabahkan hati Sa’ad.
Sa’ad bin Abi Waqqash seorang
anggota pasukan berkuda yang ulung dan gagah berani, paman Rasulullah dan
termasuk golongan yang mula pertama masuk Islam, pahlawan dari berbagai
perjuangan bersenjata, pancungan dan panahnya yang tak pernah meleset, sekarang
tampil mengepalai tentaranya dalam menghadapi salah satu peperangan terbesar
dalam sejarah, tak ubahnya bagi seorang prajurit biasa … ! Baik kekuatan
maupun kedudukannya sebagai pemimpin, tidak mampu mempengaruhi dan
memperdayakan dirinya untuk mengandalkan pendapatnya semata. Tetapi ia selalu
menghubungi Amirul Mu’minin di Madinah yang jaraknya demikian jauh, dengan
mengirimnya sepucuk surat tiap hari untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat,
padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk ….
Sebabnya tidak lain, ialah karena
Sa’ad ma’lum bahwa di Madinah, Umar tidaklah mengemukakan pendapatnya semata
atau mengambil keputusan seorang diri . . . , tetapi tentulah ia akan
bermusyawarah dengan orang-orang di sekelilingnya dan dengan shahabat-shahabat
utama Rasulullah. Dan bagaimana juga gawatnya suasana perang, Sa’ad tak hendak
kehilangan
barqah dan manfa’atnya musyawarah,
baik bagi dirinya maupun bagi tentaranya, apalagi ia tabu benar bahwa di pusat
komando itu pimpinannya langsung dipegang Umar al-Faruk, pembangkit ilham atau
inspirasi agung ….
Pesan dari Umar dilaksanakan oleh
Sa’ad. Dikirimnya serombongan di antara shahabat-shahabatnya sebagai utusan
kepada Rustum panglima tentara Persia untuk menyerunya iman kepada Allah dan
Agama Islam.
Soal jawab di antara mereka dengan
Panglima Persi itu berlangsung lama, dan akhirnya mereka tidak diperbolehkan
lagi berbicara, karena salah seorang di antara mereka mengatakan:
“Sesungguhnya Allah telah memilih
kami untuk membebas kan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan
berhala kepada pengabdian terhadap Allah Yang Maha Esa, dari kesempitan dunia
kepada keluasaannya, dan dari kedhaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam
…. Maka siapa-siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula
kesediaannya dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa yang memerangi kami, kami
perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah … ! ”
“Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?” tanya Rustum. Jawab pembicara: “Surga
bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup . . .! “
Para utusan kembali kepada panglima
pasukan Islam Sa’ad dan menyampaikan bahwa tak ada pilihan lain daripada
perang. Dan airmata Sa’ad berlinang-linang …. la berharap seandainya saat
pertempuran itu dapat diundurkan atau dimajukan sedikit waktu. Ketika itu ia
sedang sakit parah hingga ia sulit untuk bergerak. Bisul-bisul bertonjolan di
sekujur tubuhnya hingga ia tak dapat duduk, apalagi akan menaiki punggung
kudanya dan menerjuni pertempuran yang sengit berkuah darah!
Seandainya saat pecah perang itu
terjadi sebelum ia jatuh ia akan menunjukkan prestasi tinggi . . . . Adapun
sekarang ini . . *. Tetapi tidak, Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada
mereka supaya tidak mengatakan “seandainya”, karena kata-kata itu menunjukkan
kelemahan, sedang orang Mu’min yang kuat tidak kehabisan akal dan tidak pernah
lemah!
Ketika itu bangkitlah “singa yang
menyembunyikan kukunya” itu, lalu berdiri di hadapan tentara menyampaikan
pidato dengan tak lupa mengutip ayat mulia berikut ini:
Bis millahirrah ma nirrahim
Telah Kami cantumhan dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa: Bumi itu diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih – . – .
(Q.S. 21 al-Ambiya:105)
Telah Kami cantumhan dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa: Bumi itu diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih – . – .
(Q.S. 21 al-Ambiya:105)
Setelah menyampaikan pidatonya Sa’ad
melakukan shalat dhuhur bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap kepada
mereka, ia mengucapkan takbir empat kali: Allaahu Akbar
, Allaahu Akbar . . . , Allaahu Akbar. . . , Allaahu Akbar ….
, Allaahu Akbar . . . , Allaahu Akbar. . . , Allaahu Akbar ….
Alam pun gemuruh dan bergema dengan
suara takbir, dan sambil mengulurkan tangannya kemuka bagai anak panah yang
sedang melepas laju menunjuk ke arah musuh, Sa’ad berseru kepada anak buahnya:
“Ayohlah maju dengan barkat dari Allah … !”
Dengan menabahkan diri menanggung
sakit yang dideritanya, Sa’ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang
diambilnya sebagai markas komandonya. Sambil telungkup di atas dadanya yang
dialasi bantal sementara pintu anjung itu terbuka lebar . . . . Sedikit saja
serangan dari orang-orang Persi ke rumah itu, akan menyebabkan panglima
Muslimin jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati Tetapi ia tidak gentar dan
tidak merasa takut ….
Bisul-bisul pecah berletusan, tetapi
ia tidak perduli, hanya terus berseru dan bertakbir serta mengeluarkan perintah
kepada anak buahnya:
“Majulah ke kanan . . .”., dan
kepada yang lain: “Tutup pertahanan sebelah kiri awas di depanmu
hai Mughirah ke belakang mereka hai
Jarir pukul hai
Nu’man …. serbu hai Asy’ats . . , hantam hai Qa’qa’ majulah semua hai
shahabat-shahabat Muhammad saw …
Suaranya yang berwibawa, penuh
dengan kemauan dan semangat baja, menyebabkan masing-masing prajurit itu
berubah menjadi kesatuan yang utuh. Maka berjatuhanlah tentara Persi, tak ubah
bagai lalat-lalat yang berkaparan, dan rubuhlah bersama mereka keberhalaan dan
pemujaan api!
Dan setelah melihat tewasnya
panglima bestir dan prajurit prajurit pilihan mereka, sisa-sisa musuh
tunggang-langgang melarikan diri. Mereka dikejar dan dihalau oleh tentara Islam
sampai ke Nahawand lalu ke Mada-in. Ibu kota itu mereka masuki untuk merampas
kursi singgasana dan mahkota Kisra yang menjadi lambang keberhalaan.
Di pertempuran Mada-in Sa’ad
mencapai prestasi tinggi . . . . Pertempuran ini terjadi kira-kira dua setengah
tahun setelah pertempuran Qadisiyah, sementara perang berlangsung secara
keeil-keeilan antara Persi dan Kaum Muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi
ini berhimpun di kota-kota Mada-in saja, bersiap-siap untuk menghadapi
pertempuran terakhir dan menentukan….
Sa’ad menyadari bahwa situasi medan
dan musim menguntungkan pihak penentang Islam, karena antara pasukannya dan
Madain terbentang sungai Tigris yang lebar, alirannya sangat deras karena
sedang banjir meluap-luap.Walaupun demikian dengan teguh hati ia tetap
memutuskan untuk memulai serangan umum itu pada waktu itu juga, dengan
perhitungan bahwa mental pasukan musuh sedang menurun.
Nah, di antaranya peristiwa inilah
yang membuktikan bahwa Sa’ad betul-betul sebagai dilukiskan oleh Abdurrahman
bin ‘Auf, “singa yang menyembunyikan kukunya”. Keimanan sa’ad dan kepekatan
hatinya akan tampak menonjol ketika menghadapi bahaya, hingga dapat mengatasi
barang mustahil berkat keberanian yang luar biasa!
Demikianlah Sa’ad mengeluarkan
perintah kepada pasukannya untuk menyeberangi sungai Tigris, dan disuruhnya menyelidiki
yang dangkal dari sungai yang dapat dijadikan tempat penyeberangan ini. Dan
akhirnya mereka menemukan tempat tersebut, walaupun untuk menyeberanginya tidak
luput dari bahaya yang mengancam.
Sebelum tentara memulai
penyeberangan, panglima besar Sa’ad menyadari pentingnya pengamanan pinggiran
seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan
pengawasan musuh.
Ketika itu disiapkannya dua kompi
tentara: Pertama yang dinamakannya “kompi sapu jagat”, sebagai komandannya
diangkatnya “Ashim bin ‘Amr. Dan yang kedua disebutnya “kompi gerak cepat”,
sebagai pemimpinnya diangkatnya Qa’qa bin ‘Amr.
Adapun tugas dari kedua kompi ini
ialah menerjuni bahaya dan menetas jalan yang aman menuju pinggir sebelah musuh
dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang. Dan
mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang mena’jubkan .. .
Hingga siasat yang dilakukan Sa’ad
ketika itu mencapai hasil yang mengagumkan bagi para ahli sejarah, bahkan
bagi diri Sa’ad bin Abi Waqqash sendiri ….
Salman al-Farisi, yakni teman dan
kawan seperjuangannya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya
akan hasil yang telah dicapai. la menepukkan kedua belah tangannya karena
ta’jub dan bangga, katanya:
“Agama Islam masih baru ….
Tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan,
sebagai halnya daratan telah mereka kuasai ….
Demi Allah yang nyawa Salman berada dalam tangan Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat daripadanya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong bondong … !”
Dan benarlah apa yang dikatakannya itu ….
Tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan,
sebagai halnya daratan telah mereka kuasai ….
Demi Allah yang nyawa Salman berada dalam tangan Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat daripadanya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong bondong … !”
Dan benarlah apa yang dikatakannya itu ….
Sebagaimana mereka telah terjun ke
dalam sungai gelombang demi gelombang, demikianlah pula mereka keluar dari
dalamnya dan mencapai seberang sana gelombang demi gelombang pula. Tak seorang
pun dari mereka kehilangan prajurit, bahkan tak sedikit pun tentara Persi yang
mampu mengunjukkan giginya . .!
Mangkok tempat minumannya seorang
prajurit jatuh ke dalam air. Maka ia tak ingin jadi satu-satunya orang yang kehilangan
barang waktu penyeberangan itu. Kepada teman-temannya diserukannya agar
menolongnya untuk menclapatkan barang itu kembali. Kebetulan suatu ombak besar
melemparkan mangkok itu ke dekat rombongan hingga dapat mereka pungut ….
Salah satu riwayat tentang sejarah
melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana ketika penyeberangan sungai Tigris itu,
katanya:
“Sa’ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca: Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil — cukuplah bagi kita Allah, dan Dialah sebaik-baik pemimpin — Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti oleh orang-orangnya, hingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang tinggal di belakang.
“Sa’ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca: Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil — cukuplah bagi kita Allah, dan Dialah sebaik-baik pemimpin — Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti oleh orang-orangnya, hingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang tinggal di belakang.
Maka berjalanlah mereka dalam air,
tak ubah bagai berjalan di darat juga, hingga dari pinggir yang satu ke pinggir
lainnya telah dipenuhi oleh prajurit, dan permukaan air tak kelihatan lagi
disebabkan amat banyaknya anggota angkatan berkuda serta pasukan pejalan kaki.
Orang-orang bercakap-cakap sesamanya ketika berada dalam air, seolah-olah
mereka sedang bercakap-cakap di darat. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa
aman tenteram, serta percaya akan ketentuan Allah dan pertolongan-Nya, akan
janji dan bantuan-Nya … ! “
Tatkala Sa’ad diangkat Umar sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas dan lebar itu.
Tatkala Sa’ad diangkat Umar sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas dan lebar itu.
Pada suatu hari rakyat Kufah
mengadukan Sa’ad sebagai wali negerinya kepada Amirul Mu’minin, rupanya mereka
sedang dipengaruhi oleh tabi’at yang mudah dihasut, cepat resah, gelisah dan
suka memberontak, hingga mereka mengemukakan tuduhan yang bukan-bukan dan
mentertawakan. Kata mereka: “Sa’ad tidak baik shalatnya … ! “
Mendengar itu Sa’ad hanya tertawa
terbahak-bahak, ujarnya:
“Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka’at yang mula-mula dan memendekkan dua raka’at yang akhir”.
“Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka’at yang mula-mula dan memendekkan dua raka’at yang akhir”.
Sa’ad dipanggil Umar ke Madinah
untuk menghadap. Sa’ad tidak marah, bahkan segera dipenuhi panggilan itu
secepatnya. Setelah beberapa lama, Umar bermaksud untuk mengembalikannya ke
Kufah, tapi sambil tertawa Sa’ad menjawab:
‘Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh bahwa shalat saya tidak baik … ?
‘Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh bahwa shalat saya tidak baik … ?
Demikianlah ia memilih tinggal di
Madinah.
Ketika Amirul Mu’minin dicederai orang, dipilihnyalah enam orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw. yang akan mengurus soal pemilihan khalifah baru, dengan mengemukakan alasan bahwa keenam orang yang dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw. sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah. Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa’ad bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka pilihannya akan jatuh pada Sa’ad ….
Ketika Amirul Mu’minin dicederai orang, dipilihnyalah enam orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw. yang akan mengurus soal pemilihan khalifah baru, dengan mengemukakan alasan bahwa keenam orang yang dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw. sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah. Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa’ad bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka pilihannya akan jatuh pada Sa’ad ….
sewaktu memberi wasiat dan
mengucapkan selamat perpisahan dengan shahabat-shahabatnya, Umar berkata:
“Jika khalifah dijabat oleh Sa’ad, demikianlah sebaiknya . . .! Dan seandainya
dijabat oleh lainnya, hendaklah ia menjadikan Sa’ad sebagai pendampingnya … !”
Sa’ad mencapai usia lanjut . . . dan
tibalah saat terjadinya fitnah besar, dan Sa’ad tak hendak mencampurinya,
bahkan kepada keluarga dan putera-puteranya dipesankan agar tidak menyampaikan
suatu berita pun mengenai hal itu kepadanya.
Pada suatu ketika perhatian orang
sama-sama tertuju kepadanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin ‘Utbah
bin Abi Waqqash datang mendapatkannya, seraya berkata: “Paman, di sini
telah siap seratus ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang
lebih berhak mengenai urusan khilafah ini!”
Ujar Sa’ad:
“Dari seratus ribu bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja . I . , jika saya tebaskan kepada orang Mu’min maka takkan mempan sedikit pun juga, tetapi bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya … !”
“Dari seratus ribu bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja . I . , jika saya tebaskan kepada orang Mu’min maka takkan mempan sedikit pun juga, tetapi bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya … !”
Mendengar jawaban itu anak
saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak
hendak bercampur tangan.
Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu’awiyah dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanyakan kepada Sa’ad:
“Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?”
Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu’awiyah dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanyakan kepada Sa’ad:
“Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?”
Ujarnya: “Saya sedang lewat di suatu
tempat yang dilanda taufan berkabut gelap. Maka kataku: Hai saudara …. hai
saudaraku! Lalu saya hentikan kendaraan menunggu jalan terang kembali …”
Kata Mu’awiyah: “Bukankah dalam
al-Quran tak ada: Hai saudara, hai saudara! Hanya firman Allah Ta’ala:
Jika di antara orang-orang Mu’min ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. . .!
(Q.S.49 al-Hujurat:9)
Jika di antara orang-orang Mu’min ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. . .!
(Q.S.49 al-Hujurat:9)
Maka anda bukanlah di pihak yang
aniaya terhadap pihak yang benar, dan bukan pula di pihak yang benar terhadap
golongan yang aniaya … !”
Sa’ad menjawab sebagai berikut:
“Saya tak hendak memerangi seorang laki-laki — maksudnya Ali — yang mengenai dirinya Rasulullah pernah bersabda:
“Saya tak hendak memerangi seorang laki-laki — maksudnya Ali — yang mengenai dirinya Rasulullah pernah bersabda:
Engkau di sampingku, tak ubahnya
seperti kedudukan Harun di samping Musa, tetapi (engkau bukan Nabi) tak ada
lagi Nabi sesudahku!”
Suatu hari pada tahun 54 H, yakni
ketika usia Sa’ad telah lebih dari 80 tahun . . . , ia sedang berada di
rumahnya di ‘Aqiq, sedang bersiap-siap hendak menemui Allah Ta’ala ….
Saatnya yang akhir itu diceritakan
puteranya kepada kita sebagai berikut:
“Kepala bapakku berada di pangkuanku
ketika ia hendak meninggal itu. Aku menangis, maka katanya: Kenapa kamu
menangis wahai anakku . . . ? Sungguh Allah tiada akan menghukumku . . . , dan
sesungguhnya aku termasuk salah seorang penduduk surga … !”
Kekebalan imannya tak tergoyahkan
oleh apapun juga, bahkan tidak oleh goncangan maut dan kengeriannya! Bukankah
Rasulullah saw. telah menyampaikan kabar gembira kepadanya sedang ia iman
dan percaya penuh akan kebenaran Rasulullah saw. itu! Jadi apa yang akan
ditakutkannya lagi … ?
“Sungguh, Allah tiada akan menyiksaku
dan Sungguh aku termasuk penduduk surga …
Hanya ia hendak menemui Allah dengan
membawa kenang-kenangan yang paling manis dan mengharukan, yang telah
menghubungkan dengan Agamanya dan mempertemukan dengan Rasul-Nya …. Itulah
sebabnya ia memberi isyarat ke arah peti simpanannya, yang ketika mereka buka
dan keluarkan isinya, ternyata sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk.
Disuruhlah keluarganya mengafani mayatnya nanti dengan kain itu, katanya:
“Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini … ! “
Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan Lulus dan bariman serta gagah berani … !
“Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini … ! “
Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan Lulus dan bariman serta gagah berani … !
Dan sosok tubuh dari salah seorang
yang terakhir meninggal di antara orang-orang Muhajirin ini dipikul di atas
pundak orangorang yang membawanya ke Madinah, untuk ditempatkan dengan aman di
dekat sekelompok tokoh-tokoh suci dari pars shahabat yang telah mendahuluinya
menemui Allah, dan jasadjasad mereka yang dipenuhi rasa rindu itu mendapatkan
tempatnya di bumi dan tanah Baqi’.
Selamat jalan wahai Sa’ad …
Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Madain dan pemadam api pujaan di Persi untuk selama-lamanya … !
Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Madain dan pemadam api pujaan di Persi untuk selama-lamanya … !




0 komentar:
Posting Komentar